Apa kamu tahu apa itu sholat ghaib? Mungkin sebagian dari kamu ada yang belum tahu apa itu sholat ghaib. Sholat ghaib adalah sholat yang dilakukan tatkala seorang muslim yang meninggal dunia pada tepat yang jauh dan tidak mungkin mendatangainya.

Sholat ghaib dan sholat jenazah memiliki kesamaan fungsi yaitu untuk memberi doa kepada saudara sesama muslim yang telah meninggal dunia.

Dalam Islam melakukan sholat jenazah atau sholat ghaib sebenarnya merupakan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh masyarakat apabila ada salah seorang warganya yang meninggal dunia.

Menurut tata cara dalam Islam sendiri jenazah atau orang yang telah meninggal dunia harus dimandikan dan disholati terlebih dahulu sebelum dimakamkan.

Hukum menunaikan sholat ghaib sendiri dalam Islam adalah fardhu kifayah yang artinya sudah menjadi hal yang wajib bagi masyarakat Islam setempat.

Tata Cara Mengerjakan Sholat Ghaib yang Benar
Tata Cara Sholat Ghaib

Tata cara pelaksanaan shalat ghoib sama dengan shalat jenazah hanya saja shalat ghoib dikerjakan ketika mayat berada jauh dari tempat kita berada.

Pelaksanaannya sama dengan shalat jenazah baik itu cara serta doanya. Dikerjakan dengan 4 takbit dan diakhiri dengan salam (berdiri). Perbedaannya hanya ada pada lafal niat shalatnya saja.

Membaca Niat yang Benar
niat yang benar

Perlu diperhatikan sekali lagi, bahwa cara shalat ghoib sama dengan cara shalat jenazah namun hanya berbeda pada bacaan niat shalatnya saja. Setelah itu jumlah takbir serta bacaan doanya setelah takbir sama persis dengan shalat jenazah.

Berikut ini adalah lafal niat salat gaib untuk jenazah umat Islam secara umum baik wafat di daerah lain atau wafat di masa jauh silam.

أُصَلِّيْ عَلَى المَيِّتِ الغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلهِ تَعَالَى

Ushalli ‘alāl mayyitil ghā’ibi arba‘a takbīrātin fardha kifāyatin lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang jenazah gaib empat takbir fardhu kifayah karena Allah SWT.”

Dalam Shalat Gaib dan Jenazah yang ditulis Ulil H dijelaskan, niat salat gaib yang ditujukan kepada mayat yang diketahui dengan jelas identitasnya maka bunyi niatnya adalah:

أصلى على ميت (فلان) الغائب اربع تكبيرات فرض الكفاية لله تعالى

Artinya, “Saya niat salat gaib atas mayat (si A) empat kali takbir fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.”

Takbir Pertama Membaca Al Fatihah
Bacaan al fatihah

Setelah membaca niat baik lisan ataupun dalam hati maka tinggal melakukan takbiratul ihram sambil membaca Allahu Akbar Setelahnya membaca Al-Fatihah pada takbir pertama tersebut.

بسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ  لله ِ  رَبِّ   الْعَالَمِيْنَ  الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم ملِكِ يَوْمِ الدِّ يـْنِ  ايـَّاكَ نـَعْبُدُ وَايـَّاكَ نـَسْتَعِيْنُ 
 اِهْدِنـَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ صِرَاطَ الَّذيـْنَ اَنـــْعَمْتَ عَلَيْهِمْ  غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالّــِـيْنَ

Takbir Kedua Membaca Sholawat
sholawat nabi

Setelah selesai membaca Al-Fatihah, selanjutnya mengucapkan Allahu Akbar tanda takbir kedua. Lalu membaca shalawat atas Nabi Muhammad saw.

اللّـٰهُمَّ صَلَّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allahumma sholli alaa muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa shollaita ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Wa baarik ala muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa baarokta ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Innaka hamidun majiid.

Artinya:  “Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia. Dan berilah berkat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia.”

Takbir Ketiga Membaca Doa
bacaan doa

Selanjutnya, selesai membaca shalawat mengucapkan Allahu Akbar tanda takbir ketiga. Lalu, membaca doa seperti yang tercantum di atas.

Doa di atas jika si mayit adalah laki-laki, tapi jika mayit adalah perempuan maka dhamir/kata ganti “hu” diganti menjadi “ha”.

اللّـٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ باالْمَاءٍ وَالثَّلْجِ والْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَاراً خَيْراً مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْراً مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجاً خَيْراً مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ اْلجَنَّة وَأَعِدْهُ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَعَذَابِ الناَّرِ

Allaahummaghfir la-hu warham-hu waafi-hi wafu’an-hu, wa akrim nuzuula-hu, wawassi’ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal-baradi, wanaqqi-hi minal khathayaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyad-hu minal danasi, wa abdil-hu daaran khairan min daari-hi, wa ahlan khairan min ahli-hi, wa zaujan khairan min zau-ji-hi, waqi-hi fitnatal qabri wa’adzaban naari.

Artinya : “Ya Allah, ampunilah dia (mayat), berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah dia di tempat yang mulia, luaskanlah kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau mebersihkan baju putih dari kotoran. Berilah dia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, istri yang lebih baik dari istrinya (atau suaminya) dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka.”

Takbir Keempat Membaca Doa
bacaan doa

Selesai membaca doa di atas lalu mengucapkan Allahu Akbar, yaitu takbir keempat atau takbir terakhir. Selanjutnya, membaca doa seperti di atas. Sama halnya dengan doa pada takbir ketiga, jika si mayit adalah perempuan maka kata ganti “hu” diganti jadi “ha”.

اللّـٰهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِااْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِنَا غِلاَّ لِّـلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُفٌ الرَّحِيْمٌ

Allahumma la tahrim naa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu. Waliikhwaninalladzinasabaquunabiliimaani walaa taj’al fii quluubina ghillallilladzina aamanuu robbanaa innaka rouufurrohiim

Artinya : “Ya Allah janganlah kami tidak Engkau beri pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, dan berilah ampunan kepada kami dan kepadanya.”

Terakhir Membaca Salam
membaca salam

Selepas membaca doa di atas, maka tinggal melakukan salam dan mengucapkan bacaan salam:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Artinya: “ Keselamatan dan Rahmat Allah Semoga tetap kepada Kamu sekalian”

Setelah sholat ghaib selesai dilaksanakan kemudian membaca bersama-sama Surat Al Fatihah, kemudian imam membaca do’a sholat ghaib sebagai berikut :

Allaahumma shalli’alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa muhammad. allahumma bihaqqil faatihati i’tiq riqabanaa wariqaaba haadzal mayyiti (kalau perempuan haadzihil mayyitati) minan naari.

Allahumma anzilirrahmata wal maghfirata alaa haadzal mayyiti (kalau perempuan haadzihil mayyitati) waj’al qabrahu (ha) raudlatan minal jannati walaa taj’alhu (ha) hufratan minan niraani, washallallaahu alaa khairi khalqihi sayyidana muhammadin wa alaa allihi washahbihii ajma’iin, wal hamdu lillahirabbil aalamiin.

Artinya: Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, dengan berkahnya surat Al Fatihah, bebaskanlah dosa kami dosa mayit ini dari siksaan api neraka.

Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampun kepada mayit ini. Dan jadikanlah kuburnya taman yang nyaman dari surga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu lubang jurang neraka. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhluk-Nya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya sekalian, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Pendapat Ulama yang Mensyariatkan Sholat Ghaib
pendapat ulama

Mengenai disyariatkannya salat gaib terdapat perselisihan di antara para ulama. Ada ulama yang membolehkan, ada pula yang tidak membolehkan dan ada pula yang merincinya. Berikut penjelasannya.

Imam Syafi’i dan salah satu pendapat Imam Ahmad membolehkankan perkara ini. Dalilnya adalah disalatkannya Raja An-Najasiy oleh Nabi saw. padahal An-Najasy berada di negeri Habasyah (sekarang Ethiopia), sedangkan Nabi berada di Madinah.

Dalam hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah melaksanakan salat gaib:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعً

“Rasulullah saw. mendapat kabar kematian Raja Najasyi pada hari di mana raja itu wafat. Beliaupun keluar menuju tempat salat, membariskan para sahabat dan salat dengan empat takbir.”

Hadis ini menegaskan bahwa salat gaib adalah salah satu sunnah Rasulullah saw. Tidak ada alasan untuk mengharamkannya. Bahkan seharusnya diikuti.

Meskipun salat gaib adalah sah tetapi terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakannya, misalnya sulit menghadiri jenazah secara langsung. Jadi apabila memang sulit hadir meskipun masih dalam satu kota.

Misalnya di kota besar, untuk menjangkau lokasi terjadi macet panjang. Maka salat gaib sah dilaksanakan. Namun apabila tidak sulit, meskipun mayat di luar batas kota dan relatif dekat, maka salat gaib tidak sah.

Karena di luar batas kota seperti itu sama artinya dengan di dalam kota. Yang dimaksud dengan dekat adalah jarak di mana teriakan minta tolong masih terdengar.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan: Diantara Sunnah Beliau adalah apabila ketinggalan Shalat atas jenazah, maka Beliau Shalat diatas kubur, pernah setelah semalam, pernah setelah tiga hari dan pernah setelah sebulan (dari kematiannya) dan tidak menentukan batasan waktu dalam hal ini. [Zâd al-Ma’âd 1/512].

Pendapat Ulama yang Tidak Mensyariatkan Sholat Ghaib
pendapat ulama

Inilah pendapat madzhab Hanafiyah dan Mâlikiyah (Hâsyiyah Ibnu Abidin 2/309, Syarhul Khirasyi 3/142 dan adz-Dzakhîrah 2/467) serta satu riwayat dari Ahmad [lihat al-Mughni 2/382]

Dalil pendapat ini :

(a). Perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan shalat ghâib terhadap mayit an-Najâsyi adalah kekhususan untuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.

(b). Banyak Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyhalatkannya. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat semangat untuk menyhalatkan mereka hingga menyatakan:

فَلا يَمُوتَنَّ بَيْنَكُمْ أَحَدٌ مَا دُمْتُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ إِلا آذَنْتُمُونِي؛ فَإِنَّ صَلاتِي عَلَيْهِ رَحْمَةٌ.

Jangan sampai ada salah seorang yang wafat diantara kalian selama aku ada diantara kalian kecuali harus memberitahukan aku, karena shalatku adalah rahmat baginya [HR. An-Nasâ’i dan Ibnu Mâjah dan dishahihkan al-Albâni dalam Ahkâm al-Janâ`iz, hlm. 88]

(c). Tidak ada berita shalat ghâib dilakukan setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan juga kaum Muslimin tidak melakukan shalat ghâib terhadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal tidak semua kaum Muslimin menghadiri shalat jenazah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah.

(d). Diantara syarat sah shalat Jenazah adalah adanya jenazah, seperti disampaikan dalam kitab ad-Durul Mukhtâr, “ Diantara syarat shalat jenazah adalah ada mayit dan diletakkannya dihadapan orang yang menyhalatkannya dan berada diarah kiblat sehingga tidak sah untuk yang ghâib. [ad-Durul Mukhtâr yg ada bersama Hâsyiyah ibnu ‘Âbidin, 2/208].

Waktu Sholat Ghaib Dilaksanakan
waktu melaksanakan

Shalat ghâib hanya boleh dilakukan pada hari kematiannya atau dekat-dekat dengan hari itu dan tidak boleh bila sudah lama. Pendapat ini disampaikan Ibnu Abdilbarr rahimahullah dari sebagian ulama. [Lihat Fathul Bâri 3/431-432 dan Nailul Authâr 4/560]

Dalil pendapat ini adalah riwayat dari kisah Shalat ghâib untuk an-Najâsyi, dimana Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى لِلنَّاسِ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ [قَالَ: إِنَّ أَخًا قَدْ مَاتَ (وفي رواية: مَاتَ الْيَوْمَ عَبْدٌ للهِ صَالِحٌ) [بِغَيْرِ أَرْضِكُمْ] [فَقُوْمُوْا فَصَلُّوْا عَلَيْهِ] ،

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumumkan berita kematian an-Najâsyi (Ash-hamah) (Raja Habasyah) kepada orang-orang pada hari kematiannya. (Beliau bersabda : “Sesungguhnya saudara kalian telah meninggal dunia –dan dalam sebuah riwayat disebutkan : Pada hari ini, hamba Allah yang shalih telah meninggal dunia) (di luar daerah kalian) (karenanya, hendaklah kalian menshalatinya)”.

Riwayat ini menunjukkan Shalat ghâib disyariatkan pada hari kematiannya atau dekat-dekat dengan hari tersebut. Demikianlah tata cara sholat ghaib beserta niatnya yang harus dipelajari dan dipahami oleh setiap Muslim jika ada yang meninggal dunia di tempat yang jauh dari rumahnya.

Kategori: Pendidikan

ievoolme

Berpikir positif, tidak peduli seberapa keras kehidupan ini

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *