Pada kesempatan kali ini kami akan membagikan sedikit ulasan tentang tata cara sholat jenazah, niat sholat jenazah, doa sholat jenazah, dan kewajiban-kewajibannya.

Setiap makhluk yang hidup pasti akan mati, dan setiap manusia yang bernyawa pasti akan kembali ke hadapan Allah SWT. Karena sesungguhnya hidup di dunia hanya sementara, hidup kekal ialah di akhirat nanti.

Seperti yang kita ketahui, semua manusia akan kembali pada-Nya tanpa terkecuali. Ketika seseorang meninggal, ada beberapa hal yang harus dilakukan menurut syariat Islam.

Salah satunya yaitu melakukan sholat jenazah sebelum nantinya ia dimakamkan. Sholat jenazah sendiri termasuk dalam fardu kifayah atau wajib dilakukan bagi umat muslim, namun kewajiban itu akan gugur ketika sudah dilakukan oleh muslim yang lain.

Hukum Sholat Jenazah
hukum sholat jenazah

Dalam Islam, mensholatkan orang yang meninggal hukumnya fardhu kifayah. Artinya, ketika salah seorang di suatu tempat sudah melaksanakannya maka kewajiban akan gugur bagi orang lain. Meski demikian, melaksanakan salat jenazah tetap merupakan suatu anjuran bagi setiap muslim.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كان يُؤتى بالرجلِ الميتِ ، عليه الدين . فيسأل ( هل ترك لدَينه من قضاءٍ ؟ ) فإن حدث أنه ترك وفاءً صلَّى عليه . وإلا قال ( صلُّوا على صاحبِكم)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah didatangkan kepada beliau jenazah seorang lelaki. Lelaki tersebut masih memiliki hutang. Maka beliau bertanya: “Apakah ia memiliki harta peninggalan untuk melunasi hutangnya?”.

Jika ada yang menyampaikan bahwa orang tersebut memiliki harta peninggalan untuk melunasi hutangnya, maka Nabi pun menyalatkannya. Jika tidak ada, maka beliau bersabda: “Shalatkanlah saudara kalian” (HR Muslim no. 1619).

Bahkan Rosululloh SAW menganjurkan jika bisa sebanyak mungkin kaum Muslimin menshalatkan orang yang meninggal, agar ia mendapatkan syafa’at dari Rosululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang Muslim meninggal,lalu dishalatkan oleh kaum muslimin yang jumlahnya mencapai seratus orang, semuanya mendo’akan untuknya, niscaya mereka bisa memberikan syafa’at untuk si mayit” (HR. Muslim no. 947).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda dalam riwayat lain disebutkan :

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أرْبَعُونَ رَجُلا، لا يُشْرِكُونَ بِالله شَيْئاً إِلا شَفَّعَهُمُ اللهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang Muslim meninggal, lalu dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, kecuali Allah akan memberikan syafaat kepada jenazah tersebut dengan sebab mereka” (HR. Muslim no. 948).

Kewajiban Terhadap Jenazah
megingat kematian

Seseorang akan memiliki 4 kewajiban terhadap jenazah orang yang sudah meninggal :

  1. Memandikannya
  2. Mengkhafani
  3. Mensholati
  4. Menguburnya dengan layak.

1. Memandikan Jenazah
memandikan jenazah

Pertama, seseorang harus membersihkan kotoran-kotoran di badan jenazah, termasuk juga najis-najis yang terdapat pada tubuh jenazah. Salah satunya mebersihkan lubang-lubang termasuk lubang hidung dan juga lubang yang lainnya.

Selanjutnya memberikan wudhu atau mewudhukan jenazah pada anggota badannya. Meratakan air keseluruh tubuh tiga sampai lima kali. Siraman yang pertama lebih baik menggunakan air yang di campur dengan sabun dan untuk yang kedua meggunakan air bersih untuk yang ketiga (terakhir) menggunakan air yang dicampur dengan kapur barus atau juga bisa menggunakan air campuran daun bidara.

Untuk jenazah laki-laki dimandikan oleh kaum laki-laki serta sebaliknya untuk jenazah perempuan dimandikan oleh kaum perempuan. Kemudian jika sudah dimandikan dan siap untuk dikafani, apabila si jenazah memiliki rambut yang panjang lebih praktisnya rambut itu disanggul atau dikepang.

2. Mengkafani Jenazah
mengkafani jenazah

Rasulullah Bersabda: “Dari Abu Salamah ra. dia berkata dan bertanya kepada Aisyah istri Rasulullah, “Berapa lapiskah kafan Rasulullah ya Aisyah?” Aisyah menjawab “Tiga lapis kain katun (putih).” (HR.Muslim).

Kain kafan untuk jenazah laki-laki sebanyak tiga lapis sedangkan untuk perempuan sebanyak dua lapis. Apabila dua-duanya didalam tubuh ada pakaian lain semisal adalah kain sarung atau kain jarik maka kain sarung dan kain jarik tersebut akan termasuk hitungan tiga kali atau dua lapis.

Cara mengkafani jenazah dengan baik yaitu kain kafan diletakan di tempat yang baik kemudian letakan jenazah pada atasnya, lalu kafan tersebut ditelungkupkan ke atas untuk menyelubungi atau membungkus badan jenazah.

3. Mensholatkan Jenazah
mensholatkan jenazah

Jika menurut kitab Tanwiul qulub apabila jenazahnya adalah seorang laki-laki, maka ketika pada saat disholatkan posisi kepala berada di selatan, dan untuk jenazah perempuan posisi kepala disebelah utara.

Untuk jenazah laki-laki posisi imam berdiri tepat kearah kepala jenazah sedangkan untuk jenazah perempuan posisi imam berdiri mengarah ke pinggang jenazah, Jadi jika jenazah perempuan kepalanya ada di sebelah kanan imam.

Sholat jenazah tidak dengan rukuk atau sujud hanya berdiri dengan melakukan 4 takbir. Apabila mensholatkan jenazah pada daerah kuburan yang mungkin saja tanah dibawahnya tidak suci, maka jika memakai sandal sebaiknya jangan sampai dipakai atau dengan kata lain hanya berdiri diatas sandal tanpa memakainya.

Jika sandal tersebut masih dipakai hukumnya tetap sebagai sandal namun jika sandal tersebut dilepas dan ditumpangi atasnya hukumnya telah berubah menjadi tempat sholat.

Syarat Sahnya dan Niat Sholat Jenazah
niat sholat jenazah

Sebelum mensholatkan jenazah setidaknya seorang muslim harus memunuhi beberapa syarat yang harus ditunaikan terlebih dahulu antara lain :

  1. Orang yang melakukan sholat jenazah adalah seorang yang beragama muslim.
  2. Dalam keadan yang suci dari hadast kecil ataupun hadast besar.
  3. Menutup auratnya, sama seperti melaksanakan sholat yang lainnya.
  4. Menghadap Kiblat.
  5. Jenazah yang disholati ialah seorang muslim ( beragama Islam)
  6. Jenazah yang akan disholati dalam keadaan yang bersih atau sudah dimandikan.

Selanjutnya perihal niat dapat dilakukan di dalam hati, bahwa akan melakukan sholat jenazah. Niat juga bisa dilafalkan secara lisan untuk lebih memfokuskan hati dan pikiran.

Niat untuk jenazah pria:

اُصَِّ لى عَلَى هَذَاالْمَِّ یتِ اَرْبعَ تَكْبرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَایَةِ مَأمُوْمًا ِﷲِ تَعَالَى

Ushollii ‘alaa haadzal mayyiti arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa

Artinya: “Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala”.

Niat untuk jenazah wanita:

اصَِّ لى عَلَى هَذِهِ الْمَِّ یتةِ اَرْبعَ تَكْبرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَایَةِ مَأمُوْمًا ِﷲِ تَعَالَى

Ushollii ‘alaa haadzihill mayyitati arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa

Artinya: “Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala”.

Tata Cara Sholat Jenazah
tata cara holat jenazah

Seperti yang kita tau sebelumnya, tata cara sholat jenazah perempuan dan laki-laki sedikit berbeda. Perbedaannya terletak pada posisi sholat dan juga bacaannya. Nah, maka dari itu simaklah. Mari kita bahas satu persatu tata cara sholat jenazah laki-laki dan perempuan.

 Tata Cara Sholat Jenazah Laki-Laki
letak jenazah laki laki

Untuk tata cara sholat jenazah laki-laki, sedikit berbeda dengan sholat jenazah untuk perempuan. Perbedaanya terletak pada posisi imam yakni jika pada jenazah perempuan imam berada sejajar dengan pusar jenazah, maka untuk jenazah laki-laki posisi imam berada sejajar dengan kepala.

Adapun tata cara melaksanakan sholat jenazah laki-laki yakni:

1. Niat

اُصَِّ لى عَلَى هَذَاالْمَِّ یتِ اَرْبعَ تَكْبرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَایَةِ مَأمُوْمًا ِﷲِ تَعَالَى

Usholli ‘alaa haadzalmayyiti arba’a takbiratatin fardhol kifayaatai ma’muuman lillahi ta’aala.

Artinya: “Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

2. Takbir pertama, setelah takbir pertama dilakukan selajutnya  membaca surah Al-Fatihah

3. Takbir kedua, dilanjutkan dengan membaca sholawat nabi :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدناَ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدناَ إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدناَ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدناَ إِبْرَاهِيْمَ فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

Allahuma sholli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala aali sayyidina Muhammad, kama shollaita ‘ala sayyidina Ibrohim, wa ‘ala aali sayyidina Ibroohim, wa barik ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala aali sayyidina Muhammad, kama barokta ‘ala sayyidina Ibohim, wa ‘ala aali sayyidina Ibrohim, fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

5. Takbir ketiga, setelah membaca sholawat selanjutnya membaca doa:

Saya rekomendasikan untuk membaca doa untuk jenazah pria dan wanita dengan huruf Arabnya bukan huruf latinnya. Agar sempurna bacaannya.

Doa untuk jenazah pria:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّار

Allahummagfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa ‘fu’anhu wa’ akrim nuzulahu wa wasi’ madkholahu wagsilhu bilma’i watsalji wal barodi wa naqqihi minadzunubi walkhotoyaya kama yunaqqo tssaubulabyadhu minaddanasi wa abdilhu daaron khoiron min daarihi, wahlan khoyron min ahlihi, wa zaujan khoyron min zaujihi waqihi fitnatalqobri wa ‘adzabi nnar.

6. Takbir keempat, Pada takbir keempat masih membaca doa, doanya saya rekomendasikan seperti yang dibawah ini :

اللّهُمّ لاَ تَحْررِمْنَا اَجْرَهُ (هَا) وَ لاَ تََفْْتِنّاََ بَعْدَهُ (هَا) وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ (هَا) وَلِإِخْوانِناََ اّلَذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِالْإِيْمَانِ وَ لاَ تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبّنَا إِنّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

Allahumma laa tahrimnaa ajrohuu (haa) walaa taftinaa ba’dahuu (haa) wagfir lanaa wa lahuu (haa) wa li ikhwanina ladzina sabaquuna bil imaani wa la taj’al fi quluubina gillal lilladzina amanuu robbana innaka rouufur rohiim.

Apabila jenazahnya adalah anak-anak, maka disunnahkan membaca ini:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ (هَا) فَرَطًَا لِاَبَوَيْهِ (هَا) وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَ ثَقِّلْ بِهِ (هَا) مَوَازِيْنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَعَلىٰ قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ (هَا) وَلاَ تَحْرِمْهُمَا اَجْرَهُ (هَا).ا

Allahumaj’alhuu (haa) farothon li abawaihi (haa) wa salafan wa dzukhron wa ‘idzotan wa’tibaaron wa syafii’an. Wa tsaqqil bihii (haa) mawaaziinahuma, wa afrigis shobro ‘ala quluubihima, wala taftinhumaa ba’dahuu (haa) wa laa tahrimhuma ajrohuu (haa).

7. Salam, yang terakhir membaca salam

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Usai menunaikan shalat Jenazah, dianjurkan membaca Tasbih, Tahmid dan juga Tahlil.

Tata Cara Sholat Jenazah Perempuan
letak jenazah perempuan

Pada tata cara sholat jenazah untuk perempuan, posisi imam berada searah tali pusar dan makmum berada di belakang imam dengan urutan makmum laki-laki dewasa, kemudian perempuan dewasa. Sedangkan untuk jumlah shaf-nya sendiri, kalau bisa berjumlah ganjil.

Untuk tata cara melaksanakan sholat jenazah perempuan yakni:

1. Niat

اصَِّ لى عَلَى هَذِهِ الْمَِّ یتةِ اَرْبعَ تَكْبرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَایَةِ مَأمُوْمًا ِﷲِ تَعَالَى

Usholli ‘alaa haadzihil mayyitati arba’a takbiratatin fardhol kifayaatai ma’muuman lillahi ta’aala.

Artinya: “Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

2. Takbir pertama, setelah takbir pertama dilanjutkan dengan membaca surah Al-Fatihah

3. Takbir kedua, dilanjutkan dengan membaca sholawat

ا َّ للهَُّ م صَ ِّ ل عَلىَ مُحََّ مدٍ وَعَلىَ آلِ مُحََّ مدٍ كَماَ صََّ لیتَ عَلىَ إِبْرَاهِیمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِیمَ إِ َّ نـكَ حَمِیدٌ مَجِیْدٌ ا َّ للهَُّ م باَرِكْ عَلىَمُحََّ مدٍ وَعَلىَ آلِ مُحََّ مدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إبْرَاهِیمَ وَعَلىَ آلِ إبرَاهِیمَ إِ َّ نـكَ حَمِیْدٌ مَجِیْدٌ

Allahumma sholli alaa muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa sholaita ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Innaka hamiidun majiid. Allahumma baarik ala muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa baarokta ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Innaka hamidun majiid.

4. Takbir ketiga, setelah takbir ketiga membaca doa sperti yang kami sebutkan dibawah ini :

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهُا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَقِهَا فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّار

Allahummagfir laha warhamhu wa ‘afiha wa ‘fu’anha wa akrim nuzulaha wa wasi’ madkholaha wagsilhu bilma’i watsalju wal barodi wa naqqiha minadzunubi walkhotoyaya kama yunaqqo tssaubul abyadhu minaddanasi wa abdilha daaron khoiron min daariha, wahlan khoyron min ahliha, wa zaujan khoyron min zaujiha waqiha fitnatalqobri wa ‘adzabi nnar.

5. Takbir keempat, setelah takbir keempat membaca doa  dengan doa seperti dibawah ini :

اللّهُمّ لاَ تَحْررِمْنَا اَجْرَهُ (هَا) وَ لاَ تََفْْتِنّاََ بَعْدَهُ (هَا) وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ (هَا) وَلِإِخْوانِناََ اّلَذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِالْإِيْمَانِ وَ لاَ تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبّنَا إِنّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

Allahumma laa tahrimnaa ajrohuu (haa) walaa taftinaa ba’dahuu (haa) wagfir lanaa wa lahuu (haa) wa li ikhwanina ladzina sabaquuna bil imaani wa la taj’al fi quluubina gillal lilladzina amanuu robbana innaka rouufur rohiim.

Apabila jenazahnya adalah anak-anak, maka disunnahkan membaca ini:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ (هَا) فَرَطًَا لِاَبَوَيْهِ (هَا) وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَ ثَقِّلْ بِهِ (هَا) مَوَازِيْنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَعَلىٰ قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ (هَا) وَلاَ تَحْرِمْهُمَا اَجْرَهُ (هَا).ا

Allahumaj’alhuu (haa) farothon li abawaihi (haa) wa salafan wa dzukhron wa ‘idzotan wa’tibaaron wa syafii’an. Wa tsaqqil bihii (haa) mawaaziinahuma, wa afrigis shobro ‘ala quluubihima, wala taftinhumaa ba’dahuu (haa) wa laa tahrimhuma ajrohuu (haa).

7. Salam yang terakhir membaca salam.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Usai menunaikan shalat Jenazah, dianjurkan membaca Tasbih, Tahmid dan juga Tahlil.

4. Menguburkan Jenazah
menguburkan jenazah

Jenazah bukan hanya dimasukan kemudian ditimbun dengan tanah, namun memiliki beberapa peraturan pelaksanaan penguburan jenazah yang diterapkan dalam ajaran Agama Islam.

Ada beberapa perilaku yg khusus dan juga doa-doa yang harus dibaca. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran suarg Al-Isra ayat 70

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

Yang Artinya : “Dan sungguh telah Kami muliakan anak keturunan Adam.” (QS. Al-Isra ayat 70)

Langkah-langkah menguburkan jenazah sesuai dengan syariat Islam:

  • Pertama, Jenazah dikuburkan didalam sebuah lubang yang dalamnya setinggi orang dewasa berdiri, dengan lebar seukuran satu dzira lebih satu jengkal.
  • Kedua, Ketika menaruh Jenazah ke lubang kubur wajib untuk memiringkan tubuh jenazah ke sebelah kanan dan menghadapkannya ke arah Kiblat.
  • Ketiga, Melepas tali ikatannya dimulai dari kepala setelah jenazah diletakan dalam lubang kubur.
  • Keempat, yaitu menutup lubang kubur dan memberikan batu nisan untuk tanda pengenal agar mudah dikenali dimana letak jenazah.

Tata Cara Mengurus Bayi yang Meninggal
jenazah bayi

Ketika bayi yang baru lahir dan kemudian meninggal dunia, biasanya kelahirannya sebelum 6 bulan kandungan. Ketika bayi sudah berumur dalam kandungan 6 bulan jelas sudah bernyawa akan tetapi didalam dirinya meiliki kekurangan, sehingga dapat menyebabkan meninggal tetapi ada juga yang bisa hidup.

Ketika mengurus bayi yang meninggal seperti ini ada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan, sebab bayi meninggal akan diurus dengan tata cara kewajiban muslim kepada jenazah.

Ketentuan-ketentuan Yang harus diperhatikan ketika mengurus bayi yang meninggal

  • Apabila ketika seorang bayi yang lahir namun bayi sempat menjerit dan kemudian meninggal dunia, jadi hukumnya seperti anak yang meninggal dan harus dimandikan, dikafani, disholatkan serta juga di kubur.
  • Ketika bayi lahir tanpa menjerit dan langsung meninggal, namun bentuk dari tubuhnya sudah sempurna. Kalian hanya perlu untuk memandikan, mengkafani lalu menguburnya.
  • Untuk bayi yang lahir tanpa menjerit dan lansung meninggal dunia dan bentuk tubuhnya belum sempurna kalian hanya mepunyai berkewajiban menguburnya saja.

Keutamaan Sholat Jenazah
Keutamman sholat jenazah

Di dalam shalat jenazah ini terdapat keutamaan shalat yang sangat besar. Pahala seseorang jika melaksanakan shalat jenazah adalah, satu qirath yaitu sebesar gunung uhud. Jika kalian mengiringi jenazah, menshalatkan sampai mengantar jenazah hingga ke pemakamannya, maka pahalanya juga akan bertambah menjadi dua qirath.

Sebagaimana sabda dari Rasulullah :

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ

“Barangsiapa menshalatkan jenazah dan tidak mengiringinya (ke pemakaman), ia akan memperoleh pahala sebesar satu qirath. Jika dia juga mengiringinya (hingga pemakamannya), ia akan memperoleh dua qirath.” Ditanyakan, “Apa itu dua qirath?” Beliau menjawab, “Yang terkecil di antaranya semisal Gunung Uhud.” Hadist menurut HR Muslim.

Ternyata demikian besar keutamaan dalam menshalatkan jenazah ini, semoga kita selalu dimudahkan dalam mengikuti shalat fardu kifayah, saat ada teman atau saudara yang meninggal.

Hadits Tentang Kematian
sunnah sholat jenazah

Kematian pada hakikatnya adalah hal yang sangat menakutkan, yang akan menghampiri setiap manusia. Karena tidak ada seorang pun yang mampu menolak kematian. Dan bahkan tidak akan ada seorang kawan pun yang mampu menahannya.

Semuanya akan menghadapi kematian dengan cara yang sama, tidak ada kemampuan untuk menghindarinya, tidak ada kekuatan apapun untuk mendorongnya, tidak akan ada pertolongan dari siapapun, tidak akan ada penolakan, bahkan tidak akan ada penundaan.

  1. Hadist menurut riwayat Asysyhaab : Jenis kematian yang paling mulia di mata Allah, adalah matinya orang-orang yang termasuk Syuhada.
  2. Hadits riwayat Ahmad : Tak ada sesuatu hal pun yang dialami oleh anak Adam, dari setiap hal yang diciptakan oleh Allah, yang lebih berat daripada peristiwa kematian. Karena bagiNya kematian adalah hal yang paling ringan, dibandingkan dengan kehidupan yang harus dijalani setelah kematian.
  3. Hadits riwayat Ad-Dailami : Sering-seringlah kita mengingat kematian. Karena seorang hamba yang banyak atau sering mengingat kematian, maka hatinya akan dihidupkan oleh Allah dan diringankan baginya rasa sakit dari kematian itu sendiri. Artinya : seseorang akan mati dengan mudah tanpa harus merasakan sakaratul maut.
  4. Hadits riwayat Muslim : Janganlah mati dalam kecuali dalam keadaan sedang berbaik sangka kepada Allah SWT.
  5. Hadits riwayat Bukhari : Janganlah menginginkan kematian hanya karena sedang mengalami kesusahan atau kesulitan. Jika memang harus dilakukan, maka ucapkanlah “ Ya Allah tetap hidupkanlah aku, dengan kehidupan yang baik bagiku. Tapi wafatkanlah aku jika itu memang yang terbaik untukku.”
  6. Hadits riwayat Ath-Thabrani : Cukuplah maut sebagai sebuah pelajaran atau guru, dan cukuplah keyakinan sebagai kekayaan diri.
  7. Hadits riwayat Ahmad : Mati mendadak karena suatu kesenangan bagi setiap muslim, tetapi penyesalan yang besar bagi seseorang yang durhaka. Artinya : seorang mukmin harus memiliki persiapan dalam menghadapi maut setiap saat, tetapi bagi orang yang durhaka ia tidak memiliki persiapan apapun.
  8. Hadits riwayat Muslim : Tuntunlah seseorang yang akan menuju ajalnya, dengan ucapan Laailaaha illallah, agar orang tersebut mengikuti apa yang kita ucapkan.
  9. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim : Bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak diperbolehkan untuk berkabung atas kematian dalam waktu lebih dari 3 malam. Kecuali pada kematian suaminya, masa berkabungnya diperbolehkan sampai 4 bulan 10 hari. Artinya untuk kematian kedua orang tua, saudara, dan yang lain selain suaminya, masa berkabungnya tidak boleh lebih dari 3 hari.
  10. Hadits Riwayat Ahmad : Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, Ya Rasulullah jenazah orang kafir baru saja melewati kami. Apakah kami boleh berdiri? Dan Rasulullah pun menjawab, berdirilah. Karena sesungguhanya kamu bukan berdiri untuk menghormati jenazahnya. Tetapi untuk menghormati Yang Merenggut Nyawanya yaitu Allah.
  11. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim : Ada 3 hal yang mengikuti jenazah setelah ia wafat, yaitu keluarga, harta dan amalnya. Yang dua pasti kembali sedangkan yang satu akan tetap tinggal bersamanya. Yang pulang kembali tentu keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal adalah amalnya.
  12. Hadits riwayat Ad-Dailami : Seorang jenazah di dalam kuburnya sama dengan orang yang tenggelam, yang sedang meminta pertolongan. Dia akan menantikan doa dari orang tua, anak, kawan, atau saudara yang dipercayanya. Jika doa itu sampai kepadanya baginya akan lebih disukai daripada dunia dan segala isinya. Sesungguhnya Allah Azza Wajjala, menyampaikan bahwa doa penghuni dunia, untuk ahli kubur ini sebesar gunung. Hadiah dari orang yang masih hidup, pada orang yang telah mati adalah memohon istighfar pada Allah untuk mereka. Dan bersedekah atas nama mereka.
  13. Hadits riwayat Muslim : Allah selalu mencatat segala kebaikan kita. Jika kamu membunuh hewan maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kamu menyembelih hewan maka sembelihlah dengan cara yang juga baik. Asahlah tajam pisau potong, dan kemudian ringankanlah hewan potongnya.
  14. Hadits riwayat. Aththusi dan Ath-Thabrani : Janganlah kamu mengagumi amal dari seseorang, sampai kamu melihat bagaimana amalnya.
  15. Hadits riwayat Abu Dawud : Jika seorang muslim wafat dan kemudian jenazahnya disolati oleh 40 orang yang tidak bersyirik kepada Allah, maka Allah akan menginzinkan syafaat atau pertolongan bagi jenazah tersebut.
  16. Hadits riwayat Bukhari : Percepatlah jenazah ke kuburnya, jika dia adalah orang yang shaleh maka kebaikanlah yang kamu antarkan padanya. Tetapi jika kebalikannya, maka keburukanlah yang kamu tinggalkan dari beban lehermu.
  17. Menurut riwayat Mashabih Assunnah : Seorang mayit dapat disiksa di alam kubur karena disebabkan oleh tangis dari keluarganya. Artinya jika keluarda dari jenazah yang ditinggalkan menangis dan menjerit-jerit secara berlebihan. Menangisi dengan cara yang wajar masih diperbolehkan oleh agama. Lalu mengapa jenazah tersebut yang harus menanggung akibatnya? Hal ini karena sebelum ia wafat ia tidak pernah mengajarkan demikian.
  18. Menenurut riwayat Abu Ya’la : Barangsiapa yang wafat di hari Jumat atau pada malam Jumat, maka ia akan terpelihara dari fitnah ataupun siksa kubur.
  19. Menurut riwayat An-Nassai : Jangan mengingat-ingat orang-orangmu yang telah wafat, kecuali dengan menyebut-nyebut kebaikan mereka.
  20. Hadits riwayat Ath-Thabrani : Seorang sahabat bertanya, Ya Rasulullah tolong pesankan sesuatu kepadaku yang dimana hal itu berguna untukku di sisi Allah. Nabi SAW kemudian bersabda : Sering-seringlah mengingat kematian, maka kamu akan terhibur dengan segala kelelahan yang dialami di dunia. Dan perbanyaklah bersyukur.

Karena sesungguhnya bersyukur adalah, menambah kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Kemudian perbanyaklah doa. Karena kalian tidak akan pernah tahu, kapan doamu akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Sunnah Sholat Jenazah
sunnah sholat jenazah

Ada hal-hal sunnah ketika melakukan sholat jenazah. Jika melakukannya, pahala orang yang mengerjakan sholat jenazah akan bertambah. Berikut ini ulasannya :

  • Mengangkat Tangan di Setiap Takbir

Saat imam melakukan takbir, disunnahkan mengangkat tangan. Kesunnahan ini sangat diutamakan karena dalam sholat jenazah tidak ada rukuk dan gerakan lainnya.

  • Merendahkan Suara

Sunnah ini berlaku bagi imam maupun makmum.

  • Membaca Ta’awuz

Disunnahkan membaca ta’awuz setelah melakukan takbirotul ihram pertama.

  • Memperhatikan Jumlah Jama’ah

Sholat jenazah lebih baik dilakukan dengan banyak orang sebagai jamaah.

  • Memperhatikan Jumlah Shaf

Jumlah shaf rosululloh memerintahkan supaya dalam mengambil shof diharuskan berjumlah ganjil.

Alhamdulillah cukup sekian pembahasan kali ini. Semua itulah tata cara mensholatkan jenazah yang dapat kami sampaikan. Semoga semua informasi yang kami sampaikan diatas bisa dicerna dan dimanfaatkan sesuai alurnya.

Tentunya jangan lupa share informasi ini siapa tahu teman atau sanak saudara yang sedang membutuhkan pembelajaran mengenai langkah-langkah dan tata cara mensholatkan jenazah. Sekian dan terimakasih

 

Kategori: Pendidikan

ievoolme

Berpikir positif, tidak peduli seberapa keras kehidupan ini

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *